Loading...

KEPATUTAN = MAPPASITINAJA

Mappasitinaja berasal dari kata sitinaja yang berarti pantas, wajar atau patut. Mappasitinaja berarti berkata atau berbuat patut atau memperlakukan seseorang secara wajar. Definisi kewajaran diungkapkan oleh cendekiawan Luwu sebagaimana dikutip oleh Ambo Enre (1992) sebagai berikut. Ri pariajanngi ri ajannge, ri parialau'i alau'e, ri parimanianngi maniannge, ri pariase'i ri ase'e, ri pariawai ri awae. (Ditempatkan di Barat yang di Barat, ditempatkan di Timur yang di Timur, ditempatkan di Selatan yang di Selatan, ditempatkan di atas yang di atas, ditempatkan di bawah yang di bawah.) Dari ungkapan itu, tergambar bahwa seseorang dikatakan bertindak patut atau wajar bila ia mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Seseorang yang bertindak wajar berarti ia mampu menempatkan dirinya sesuai dengan kedudukannya. Ia tidak menyerakahi hak-hak orang lain, melainkan memahami hak-haknya sendiri. Di samping itu, ia pula dapat memperlakukan orang lain pada tempatnya. Ia sadar bahwa orang lain mempunyai hak-hak yang patut dihormati. Perbuatan wajar atau patut, dalam bahasa Bugis biasa juga disebut mappasikua. Seorang yang berbuat wajar dalam arti mappasikoa berarti ia merasa cukup atas sesuatu yang dimilikinya. Ia bertindak sederhana. Dicontohkan oleh Rahim (1985), tentang sikap wajar Puang Rimaggalatung.Puang Rimaggalatung pernah berkali-kali menolak tawaran rakyat Wajo untuk diangkat menjadi Arung Matoa Wajo atas kematian Batara Wajo III yang bernama La Pateddungi Tosamallangi. Bukannya beliau tidak mampu memangku jabatan yang ditawarkan kepadanya, tetapi ia sadar bahwa jabatan itu sungguh sulit untuk diembannya. Namun, karena Adat (para wakil rakyat) dan rakyat Wajo sendiri merasa bahwa beliau pantas memimpin mereka, akhirnya tawaran itu diterima. Aja' muangoai onrong, aja' to muacinnai tanre tudangeng, de'tu mullei padecengi tana. Risappa'po muompo, ri jello'po muompo, ri jello'po muakkengau. (Jangan serakahi kedudukan, jangan pula terlalu menginginkan kedudukan tinggi, jangan sampai kamu tidak mampu memperbaiki negeri.Bila dicari barulah kamu muncul, bila ditunjuk barulah kamu mengia.)
Baca Selengkapnya ...

Perbedaan Bissu, Passure' dan Pallontara'

Bahasa Bugis adalah bahasa yang digunakan oleh orang-orang Bugis dalam berkomunikasi antara sesama mereka. Bahasa Bugis merupakan bahasa yang paling besar jumlah pemakainya di Sulawesi Selatan, dengan berbagai varian dan dialek.


Bahasa Bugis tidak hanya digunakan di Sulawesi Selatan, tapi juga digunakan oleh orang-orang Bugis yang membangun perkampungan-perkampungan di rantau. Menurut Timothy and Barbara (1985:1), suku bangsa Bugis adalah suku bangsa yang paling banyak jumlahnya dan paling progresif di Sulawesi Selatan.

Pada masa lampau bahasa Bugis digunakan untuk semua kegiatan kebudayaan orang-orang Bugis, baik dalam aktivitas keagamaan, politik, pertanian, perdagangan, maupun dalam kesusastraan. Namun bersama dengan perubahan waktu, terutama setelah tanah Bugis dilebur menjadi bagian dari Indonesia, perlahan-lahan bahasa Bugis mulai tergeser, penggunaannya digantikan oleh bahasa Indonesia yang menjadi bahasa pergaulan antara etnik di Nusantara.

Meskipun begitu, data bahasa Bugis masih melimpah dan terpelihara dengan baik, karena orang Bugis mengenal aksara yang lebih populer yaitu aksara lontara'. Melalui aksara lontara' itulah orang Bugis dapat mengabadikan berbagai ilmu dan kearifan masa lampaunya, termasuk dalam berbagai bentuk ekspresi kebudayaannya, khususnya di bidang sastra. Khusus bahasa Bugis yang digunakan dalam berbagai naskah lontara' dapat diklasifikasikan ke dalam empat macam, yaitu :
  1. Bahasa Bissu atau biasa juga disebut bahasa to ri langi' (bahasa orang di langit), bahasa yang digunakan di kalangan para bissu.
  2. Bahasa La Galigo, bahasa sastra yang digunakan dalam naskah-naskah La Galigo.
  3. Bahasa Lontara', bahasa yang digunakan dalam berbagai naskah lontara'
  4. Bahasa Umum, adalah bahasa Bugis yang dipakai oleh orang-orang Bugis secara umum dalam kehidupan sehari-hari. 
Bahasa bissu adalah bahasa yang digunakan oleh para bissu. Bissu adalah pemimpin upacara adat yang bersifat religius dan ritual. Mereka bertugas merawat dan mengatur alat-alat kerajaan dan benda-benda suci yang dikeramatkan. Penampilan seorang bissu mirip waria meskipun pada hakikatnya ia adalah lelaki atau wanita tulen. Menurut keyakinan orang-orang Bugis dahulu kala, dengan bersikap banci, mereka dianggap telah melepaskan diri dari kodrat mereka dan dengan sendirinya mereka telah terlepas dari tuntutan biologis terhadap lawan jenis mereka. Dengan demikian hubungan bissu dengan para dewa dianggap tidak akan pernah terputus.
Menurut Fachruddin Ambo Enre (1983:30), istilah Bissu mempunyai persamaan dengan istilah Biksu dalam agama Budha. Namun dalam perkembangan selanjutnya, bentuk perwujudannya berbeda dengan Biksu yang ada dalam agama Budha.
Para bissu mempunyai bahasa tersendiri di dalam berkomunikasi antar mereka. Bahasa mereka tidak dapat dipahami oleh orang-orang Bugis pada umumnya, karena penuh dengan simbol-simbol dan diperkaya oleh kosakata yang arkhais. Contoh pada naskah Paddangeng-Nrangeng:
Tudakko denra manningo, gojengnga' denra mallettung, tudakko mattule-tule, mattule-tule tinaju.
Artinya :
Aku membangunkan dewa yang tidur, aku membangunkan dewa yang berbaring, bangunlah duduk-duduk, duduk-duduk dengan tenang.
Pada contoh tersebut, terlihat bahwa hanya satu kata yang dapat dipahami orang Bugis pada umumnya, yaitu tudakko (duduklah engkau) selebihnya tak satu pun kosakatanya dapat dikenali sekarang, apalagi memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Selain bahasa Bissu juga terdapat bahasa Galigo. Bahasa ini terdapat pada bahasa yang digunakan dalam epos La Galigo. La Galigo, adalah salah satu warisan sastra Bugis yang cukup terkenal. Berdasarkan ribuan halaman manuskripnya dan jalinan tokohnya yang kompleks, Kern (1935:1) dan Sirtjo Koolhof (1995:1) menempatkannya sebagai karya sastra terbesar dan terpanjang di dunia melebihi Mahabarata dan Ramayana dari India dan sajak-sajak Homerus dari Yunani.
La Galigo diturunkan dalam 3 tradisi, yaitu 1) Tradisi tulis, 2) Tradisi lisan, 3) Upacara/konteks. La Galigo seperti yang ada di dalam berbagai manuskrip, diyakini oleh sebagaian orang Bugis sebagai kitab suci mereka sebelum menjadi Islam. La Galigo ditulis bukan untuk dibaca dalam hati tapi untuk didendangkan di muka publik. Pelisanan La Galigo itulah yang disebut massure'.
Bahasa La Galigo pada umumnya dapat dipahami oleh para bissu karena para bissu adalah pendeta agama tradisionil orang Bugis. Itulah sebabnya, para bissu juga dapat memahami arti dan fungsi La Galigo, tapi ia bukanlah penembang La Galigo. Para pembaca La Galigo yang lebih populer disebut Passure' biasanya bukanlah seorang bissu tapi orang-orang pilihan yang memiliki kemampuan intelektual dan kecerdasan untuk membaca huruf-huruf tua yang terdapat di dalam naskah La Galigo. Di samping itu juga harus memiliki suara yang bagus.
Bahasa La Galigo adalah bahasa sastra yang digunakan dalam naskah-naskah La Galigo yang sebagaian besar kosakatanya juga tidak lagi dipahami oleh generasi Bugis sekarang. Oleh sebagian orang Bugis bahasa ini dianggap mempunyai nilai sakral yang dibacakan oleh para Passure' pada upacara-upacara ritual.
Sementara itu, bahasa yang digunakan dalam naskah lontara' adalah bahasa Bugis umum yang memiliki kosakata yang mengandung falsafah tinggi. Lontara' secara harpiah adalah daun lontar, namun bila ditempatkan dalam konstalasi kebudayaan Bugis yang memiliki banyak makna, diantaranya sebagai : 1) Sistem tulisan orang Bugis, 2) Sejarah dan silsilah orang Bugis, 3) Berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti lontara' kotika (astronomi), lontara' pabbura (pengobatan) dan sebagainya. Bahasa yang digunakan di dalamnya adalah bahasa Bugis umum yang memiliki falsafah hidup yang tinggi. Ia penuh dengan simbol-simbol dan falsafah hidup luhur, yang tidak semua orang dapat memahami maknanya. Orang yang ahli membaca dan memahami isi lontara' tersebut disebut Pallontara'.
Sedangkan bahasa Bugis umum adalah bahasa Bugis sehari-hari yang digunakan oleh orang-orang Bugis sekarang ini.  Hanya tentu saja telah mengalami perbedaan yang cukup signifikan seperti yang terdapat pada bahasa Bugis Galigo atau lontara'. Bahasa Bugis umum ini telah dipengaruhi oleh berbagai semangat zaman, terutama pengaruh bahasa dan budaya dari luar.
Baca Selengkapnya ...

Ada Pappaseng



Pengertian
Paseng dapat diartikan: (1) perintah; nasihat; permintaan (2) amanat yang disampaikan lewat orang lain, (3) perkataan; nasihat; wasiat yang terakhir.

Pappaseng berasal dari kata dasar paseng yang berarti pesan yang harus dipegang sebagai amanat, berisi nasihat, dan merupakan wasiat yang perlu diketahui dan diindahkan.

Pappaseng dalam bahasa Bugis mempunyai makna yang sama dengan wasiat dalam bahasa Indonesia. Pappaseng dapat pula diartikan pangaja’ yang bermakna nasihat yang berisi ajakan moral yang patut dituruti.

Dalam tulisan Punagi (1983:1) dinyatakan bahwa pappaseng adalah wasiat orang tua kepada anak cucunya (orang banyak) yang harus selalu diingat sehingga amanatnya perlu dipatuhi dan dilaksanakan atas rasa tanggung jawab.

Mattalitti (1980:5) juga mengemukakan bahwa pappaseng bermakna petunjuk-petunjuk dan nasihat dari nenek moyang orang Bugis zaman dahulu untuk anak cucunya agar menjalani hidup dengan baik.

Jadi, pappaseng adalah wasiat orang-orang tua dahulu kepada anak cucunya (generasi berikutnya) yang berisi petunjuk, nasihat, dan amanat yang harus dipatuhi dan dilaksanakan agar dapat menjalani hidup dengan baik.


Baca Selengkapnya ...

Komunikasi Verbal Dalam Elong Ugi

Elong Mate Colli atau Ongkona Bone tersusun dari syair-syair/kalimat yang menggunakan huruf lontara atau bahasa Bugis. Lagu tersebut telah disepakati sebagai lagu wajib bagi masyarakat Kabupaten Bone baik di tingkat sekolah maupun masyarakat umum. Lagu tersebut biasanya dinyanyikan dalam kegiatan seremonial seperti peringatan hari jadi Kabupaten Bone atau pada kegiatan lomba yang diselenggarakan di sekolah-sekolah. Lagu ongkona Bone hingga saat ini belum diketahui dengan pasti kapan diciptakan dan siapa penciptanya. Namun, jika dibedah bahasanya serta dihubungkan dengan sejarah, maka kemungkinan besar lagu tersebut tercipta sekitar tahun 1905 yaitu pada saat terjadinya perang antara kerajaan Bone melawan pasukan Belanda. Ribuan laskar kerajaan Bone yang gugur dalam pertempuran itu. Sepanjang pantai Teluk Bone di serang habis-habisan oleh tentara Belanda. Oleh karena persenjataan tidak seimbang, tentara Belanda berhasil menguasai kerajaan Bone. Jatuhnya kerajaan Bone inilah yang dikenal dengan peristiwa Rumpa’na Bone.

Elong Ongkona Arung Pone  seperti yang telah diuraikan di atas, merupakan bentuk komunikasi verbal masyarakat Bone waktu itu yang terjalin dari syair-syair yang mengandung makna, nilai, dan nasihat yang sangat dalam. Syair lagu tersebut dikomunikasikan secara verbal diuraikan seperti yang berikut ini.

a.      Elong Ongkona Bone (Mate Colli)

O ... mate colli, mate colli ni wartue
(Pohon waru/kubba menjadi mati. Pohon kubba mempunyai ranting dan bergetah. Zaman dahulu  digunakan sebagai pengeriting rambut).

Ri toto baja-baja alla, ritoto baja-baja alla ...
(Setiap saat di pangkas)

O ... macilaka, macilaka kembongeng
(Celakalah penggulung rambut)

Nappai ri bola-bola alla, nappai ri bola-bola alla ...
(Baru di bentuk-bentuk)

Namate puangna
(Puangna bermakna simbolik artinya pohon kubba/waru mati karena setiaap saat dipangkas dijadikan penggulung rambut)

O ... taroni mate, taroni mate puangna
(Biarlah mati, biarlah mati  pohon kubba)

Iyapa upettu rennu alla iyapa upettu rennu alla
(Barulah putus harapan dan menyerah)

Kusapupi mesanna
(Bila kupegang batu nisannya)

Larik pertama o ... mate colli mate collini warue, larik ini diungkapkan kepada khalayak dengan menggunakan simbol pohon waru (kubba). Pada zama dahulu ranting pohon waru  dijadikan sebagai penggulung rambut agar menjadi keriting. Pelantunnya bermaksud mempercantik dirinya setelah sang suami kembali dari medan pertempuran. Selain itu, pohon waru sangat lebat daunnya sehingga dapat dijadikan sebagai tempat berteduh dari hujan dan teriknya panas matahari. Dengan demikian melalui simbol pohon waru secara tidak langsung ingin dikomunikasikan bahwa pohon waru yang dijadikan sebagai pengeriting rambut  rambut untuk mempercantik diri serta sebagai tempat berteduh telah layu dan mati.
Selanjutnya pada larik kedua diungkapkan lagi ritoto baja-baja alla ritoto baja-baja alla. Pelantunnya bermaksud menyampaikan bahwa pohon waru itu mati karena sering dipangkas untuk dijadikan sebagai penggulung rambut. Larik tersebut diungkapkan dengan bentuk berulang untuk lebih menegaskan maksud pelantunnya. Lalu dilanjutkan dengan ungkapan pada larik ketiga o... macilaka, macilakani kembongeng. Dikatakan bahwa celaka, celakalah, namun yang dikatakan celaka adalah penggulung rambut karena pohonnya sudah mati. Larik ini juga menggunakan bentuk berulang. Sebenarnya yang dimaksud dengan celaka di sini terkait dengan diri pelantun, karena tidak dapat menggulung rambutnya lagi.
Larik keempat nappai ri bola-bola, nappai ri bola-bola. Larik ini kembali diungkapkan dengan bentuk berulang. Maksudnya, baru dibentuk. Secara tersirat sebenarnya yang ingin dikomunikasikan bahwa pelantun lagu ini baru saja memulai untuk mempercantik diri pohon warunya sudah mati melalui ungkapan pada larik kelima namate puangna. Sebenarnya matinya pohon waru itu sebagai pertanda bahwa suaminya juga telah gugur di medan pertempuran, sehinnga rumah tangga yang baru saja dibentuk sudah tidak dapat dilanjutkan lagi.
Selanjutnya larik keenam diungkapkan o ... taroni mate, taroni mate puangna. Pelantun lagu ini mengungkapkan kepasrahannya menerima kenyataan bahwa pohon waru yang sangat bermanfaat bagi dirinya telah mati dan juga merupakan pertanda bahwa suaminya juga telah tiada. Pertanda gugurnya suaminya di medan pertempuran tidak membuat dia berputus asa dan putus harapan.  Hal tersebut diungkapkan pada larik ketujuh iyapa upettu rennu alla iyapa upettu rennu artinya barulah ia berputus asa dan menyerah bila ia telah mengusap batu nisan suaminya. Sesuai dengan yang diungkapan pada larik kedelapan (terakhir) kusapupi mesanna.
     Elong Ongkona Bone (Mate Colli) terdiri atas tiga bagian, yaitu bait pertama dan kedua bermakna simbolis sedangkan bait ketiga mengandung makna semangat. Lagu ini menggambarkan kemampuan seseorang berekspresi dalam mengomunikasikan buah pikiran dan perasaannya.
     Pada dasarnya nasihat yang terkandung dalam syair elong Ongkona Bone, meliputi (1) jangan mudah mempercayai informasi yang kurang jelas dan tidak bertanggung jawab, (2) setiap pekerjaan harus dilandasi dengan semangat, (3) syair lagu merupakan ungkapan cipta, rasa, dan karsa.     
                        
b.      Labuni Essoe

Labuni essoe turunni uddanie
Wettunnani massenge' ri tau mabelae

Telah rembang petang telah datang kenangan
Saatnya kukenang tentang angkau di kejauhan

Mabelani laona tengnginana taddewe'
Tekkarebanna pole, teppasenna pole

Sungguh jauh engkau pergi melupakan pulang
Tak ada kabar datang, tak ada pesan datang

Waseng magi muonro ri dolangeng
Temmulettutona temmurewetona

Gerangan mengapa engkau tinggal di angan-angan
Sampai tak sampai, kembali tak kembali

Iyami ripuada idi tea iyya tea
Idi temmadampe iyya temmasenge
Idi temmadampe iyya temmasenge

Begini saja kita katakan: engkau tak ingin, aku tak ingin
Engkau tak menyebut namaku, aku melupakan namamu
Engkau tak menyebut namaku, aku melupakan namamu



Ajamua mupakkua menreppa ri cempae
Uanrei buana na mecci elo'mu
Uanrei buana na mecci elo'mu

Tetapi janganlah engkau lakukan, jika kupanjat pohon asam
Dan aku cicipi buahnya akan mengalir air liur dari bibirmu
Dan aku cicipi buahnya akan mengalir air liur dari bibirmu

Mecci elo manre cempa
Waena kalukue mappasau-sau dekka
Waena kalukue mappasau-sau dekka

Jika kering liurmu ingin mencicipi buah asam
Segelas air kelapa menghapus seluruh haus
Segelas air kelapa menghapus seluruh haus

Artinya:
Telah Rembang Petang

Bait pertama pada elong tersebut diungkapkan, labuni essoe, turunni uddanie berarti  mata hari  telah terbenam, dan mulai masuk waktu petang. Saat seperti itu biasanya kenangan datang menghampiri orang-orang yang terpisah dengan orang yang dikasihinya. Hal itu tampak pada ungkapan    Wettunnani massenge,  ri tau mabelae”  : ‘saatnya kukenang tentang engkau dari kejauhan’.
Selanjutnya bait  kedua dingkapkan lagi, mabelani laona tengnginana taddewe, berarti: sungguh jauh ia telah  pergi,  tak mau kembali lagi’;  Hal itu dibuktikan dengan ungkapan Tekkarebanna pole, teppasenna pole, artinya: ‘ kabarnya tak ada,   pesan pun tak ada’. Maksud pelantunnya, seseorang yang dikasihinya telah pergi jauh, tak akan pernah kembali lagi, baik berupa kabar, maupun  pesan tak pernah ada.
Lebih lanjut pada bait ketiga:, waseng magi muonro ri dolangeng, artinya:’ mengapa gerangan engkau tinggal di angan-angan’; temmulettutona temmurewetona”, artinya: ‘engkau tak sampai, juga  tak kembali’. Maksudnya:  mengapa gerangan engkau tinggal dalam angan-angan, engkau tak pernah sampai, begitu pula tak pernah kembali.
Bait keempat:, diungkapkan lagi iyami ripuada idi tea iyya tea, artinya: ‘begini saja kita katakan; engkau tak ingin, aku juga tak ingin’.“ Rupanya pelantun elong ini sudah mulai tidak menunjukkan kesabarannya, lalu dikatakan, kalau engkau tidak mau saya juga tidak mau. Lebih lanjut dikatakan  lagi, idi temmadampe iyya temmasenge, artinya: ’engkau tak menyebut namaku, aku melupakan namamu’. Maksudnya,  bila engkau tak menyebut namaku, aku juga akan  melupakanmu. Larik ini menunjukkan ciri khas masyarakat Bugis masing-masing ingin menunjukkan jati dirinya. Larik ini diulang dua kali agar lebih jelas maksudnya. 
Selanjutnya, dalam bait kelima diungkapkan, ajamua mupakkua menreppa ri cempae artinya:  janganlah engkau berbuat seperti itu, jika kupanjat pohon asam; uanrei buana na mecci elo'mu, ‘artinya:   aku cicipi buahnya akan mengalir air liur dari bibirmu’; uanrei buana na mecci elo'mu . Bait ini memiliki makna simbolik. Pohon asam itu tinggi dan besar. Hal ini diibaratkan pada seseorang yang memiliki kedudukan yang tinggi,  banyak orang yang tergiur melihatnya. Maksud bait ini adalah manusia tidak boleh bebuat seenaknya terhadap sesamanya, apalagi terhadap orang yang pernah dikasihinya. Tidak menutup kemungkinan orang yang tersakiti menjadi  orang yang hebat dan berkedudukan tinggi sehingga menjadi terpandang di masyarakat.  
Bait keenam, diungkapkan mecci elo manre cempa, jika meleleh air liurmu ingin mencicipi buah asam, dilanjutkan dengan ungkapan waena kalukue mappasau-sau dekka, ‘segelas air kelapa akan menghapus seluruh dahaga, waena kalukue mappasau-sau dekka Larik ini diulang dua kali dengan maksud lebih mempertegas maksudnya.  Ungkapan ini juga memiliki makna simbolik. Maksud sebenarnya adalah, suatu ketika orang yang ditinggal itu berhasil menjadi orang terpandang pasti engkau akan tergiur melihatnya. Penawar ketergiurannya itu adalah mencari sesuatu yang dapat menyenangkan hati juga.

Oleh Akmal Hamzah
Baca Selengkapnya ...

Katobba Ugi

Umma' Selleng engkae hadere'...

Tenri sedding assisellengenna essoe nawennie, tajangnge na’ pettangnge, pella’e nakecce’e, mancajiwi butti nenniya papparingerang ri’ idi umma sellengnge makkeda riwettu tuota sewwa wettu matti napoleiki amateng, riwettu magalatta engka wettu napoleiki lasa, riwettu malolota sewwa wettu napoleiki atowangeng. Wettu masagenata sewwa wettu napoleiki akasi-asingeng.
Nade nasiaga ettana labe’na uleng ramalang narigau engkana nataroangekki puang Allata’ala upe maraja nenniya appalang malleppi-leppi, nenniya nappa mua purana rirowasi alleppereng pittara’e nasibawai addampeng, samanna tabbajo mupi riwettu tosiaddampeng-dampengetta, natopada engka mapaccing pole ridosa’e nenniya assitampungenna ati’e. takkaposi iyae essoe, esso malebbi namsero raja’riseseta idi umma sellengnge, onrong riongroi sipakario rennu, pada roasiwi sikira-kira pannessai tanra asukkureketta nenniya tanra attarima kasitta lao risese arajanna puang Allah ta’ala.

Umma' Selleng engkae hadere'...

Rilalenna iyae esso’e dua tellu kajajiang maraja rilalenna lino, iya mancajie tanra alebbirenna nenniya arajangenna agama sellengnge. Mula-mula kajajiang maraja iyanaritu : maddatu sebbu oroane nenniya makkunrai pada maddeppungeng dipadang arafah, iya manengro umma selleng mallaingeng maneng apolengenna, madupa-rupang bahasana, nenniya bangsana makkutoparo sukunna, engka mola tasi, engka mola puttanang, engka manengngi makkoko’e rilapangenna bulu arafah dengan pengorbanan yang sangat besar, napakkua teppe’na lao ripuang Allah ta’ala samanna de’naseddingngi alena napaluttu warang-parangna, nasalai wija-wijanna, nalulu siaga egana arasa-rasang, sarekkuammengngi nabaliwi pattampana puang Allah ta’ala, nalao ritana mapaccingnge, pada maddeppungeng ripadang arafah pada pakei pakeang ihramna, pakeang mapute tenrijai, temmabaju temmassongko, samanna mennangro silalona ripatokkong pole rikubburu’e naripaddeppungeng ripadang mahsyar, napada napoada makkeda :

Upeppaha nenniya alabappaha risesena tau engkae pasilennerengngi pakkasiwiyang hajji’e nakarana puang Allah ta’ala, nenniya teppe simata gangkanna nalulu maneng siaga egana rintangan, nasaba napahang madecengngi apaccingeng pole ridosa’e. padatoha ana mula jajie riparimmanana indo’na, turu rimakkedanna nabitta.SAW
Bettuanna : nigi-nigi tau menre hajji nade’to nakkeda ada marota, nenniya de’to nappapole gau maja’ majeppu massu’ni pole ridosana padatoha apaccingenna riwettu rijajiang ri indo’na.

Mekkedatoi nabitta SAW :
Bettuanna : Naiyya hajji ritarimae de’gaga pamalena sanggadinna suruga pammasena puang Allah ta’ala.

Umma' selleng engkae hadere'...

Maduanna kajajiang maraja rilalenna iya’e esso’e, iyanaritu maddatu sebbu umma selleng urowane nenniya makkunrai risiagae egana negara pada lao maneng ritana lapangnge iyarega rimasigi’e pada lao maneng pasilennerangngi sempajang alleppereng koroba’e rigau engkai paegai appoji-pojinna nenniya takabbere’na lao ripuang Allah ta’ala iya mancajie tanra asseddi-seddinna umma sellengng, pada engka mala jiji sibawa takkatoro nenniya pannessai asseddi-seddinna makkutoparo assirupa-rupanna, padamui engkanna tau kasiasi’e tettong riseddena tau sogi’e, rakyat’e tettong riseddena tau mapparentae, degaga assillaingenna ritu risesena puang Allah Ta’ala, roko pada roko, suju pada suju, tudang pada tudang rigau engkana seddi komando iyanaritu komandona imangnge. Jaji de’ nasitinaja idi umma sellengnge melo situna-tunai, sipeddi-peddiri, nenniya sipandang enteng nasab appongetta seddimi bawang naseng nabitta SAW :
Bettuana : naiyya rupa taue pole manengngi rinabi adam, naiyya nabi adam polei ri tanae nade’ apallebbireng napunnai bangsa ara’e nenniya bangsa ajangnge nenniya makkuli mapute nenniya malotongnge, majeppu kaminag malebbi rikotu mennang iyanaritu mataue ripuang Allah ta’ala.

Umma' selleng engkae hadere'...

Matellunna kajajiang maraja rilalenna iyae esso’e, iyanaritu pada engkaki pakabarui perengngeratta risejarana panggulutta nabi ibrahim nasa riujinna ripuang Allah ta’ala riwettu risurona gere’I ana’na riasengnge ismail. Menuru sejarah panggulutta nabi ibrahim mappulo taunni pura nakawingi bainena riasengnge st. sarah nade’gaga ana’na, gangkanna masara ininnawani pikkirikiwi makkeda narekko matena matti nigana patterui perjuangakk. Nainappa risurona ibrahim ribainena st. sarah sarekkoammengngi napubaine I riyasengnge st. hajar nasimata millau doang ri puang Allah ta’ala makkeda :
Bettuanna : eee. Puang tapakkidalekika ana’ saleh, yarega ana patuju
Aga naripakkidallekina nabi ibrahim, ana iya namminasaiyye iyanaritu riasengnge ismail. Natemmaka rionaritu nasaba ismail saisai ana matturu riparentae, ana marengkalinga ada, ana mancajie cayyana matanna buana atinna. Aroddaningenna temmapettu, napede lao esso pede’ matanre pappojinna ri’ana’na nasaba saisai ana seddi-seddi.

Jamaah ied rahimakumullah

Aga nariujina teppe’na ripuang Allah ta’ala untuk gere’I ana’na iya kamnang napoji’e, sarekkoammangngi nannessa tongeng-tongeng tegae ritu napoji, puanna iyarega ana’na naiyya ibrahim saisai tau maraja tau’ nenniya malamung teppe’na, nade’ natola’I narekko parentana puang Allah ta’ala. Riolotenrijajianna ismail pura memengngi nabi ibrahim makkoroba 1000 kajunna bembe, 300 kajunna tedong, 100 kajunna unta, nainappa makkeda nabi ibrahim, naengkai puang Allah ta’ala, bennengnge engka ana’ oroaneku, majeppu uwakorobattoi ritu rilaleng naporiyoe puang Allah ta’ala, naiyya tau engkae saksikangngi nenniya malaeka’e takkajenne maneng mitai amala’na nabi ibrahim, as.
Naiya kiya risesena nabi ibrahim cedde mupa koritu.
Riwettu narapi’na ismail umuru’na 12 tahun, nabi ibrahim riparingkalinganni sadda rilaleng tinrona makkeda eh………ibrahim padupani tinja’mu, riwettu naengkalingnna iyae saddae, simata mappikkiri’I ibrahim makkedae : parenta pole ripuang Allah ta’ala iyarega pole risetangnge? Gangkanna ibrahim riwettu kuwaero gerei bembe 1000 kajunna nakapanni makedda purani napasilennerengngi tinja’na. wenni maduanna mengkalingasi sadda makkeda : paddupai tinja’mu, gangkanna maggeresi 100 kajunna unta. Riwenni matellunna naengkalingasi sadda makeda: majeppu puang Allah ta’ala naparetaiyakko gere’I ana’mu ismail gangkanna naenggeranni ibrahim sebagai tinj’na riwettu purana maggere 1400 olokolo.
Riwettu maelo’na paddupai parentana puang Allah ta’ala, nabi ibrahim naolli madecengngi ana’na ismail natteru nakaddao rigau engkana terri manggerangngi nippinna, nappa napoada makkeda :
Bettuanna : eh…..anakku ismail majeppu witako ana rilaleng tinroku ugereko, jaji pakkogitu tanggamu ana’
Naikiya ismail saisai ana’ marengkalinga ada nenniya maraja atturu, gangkanna de’ namalampe pikkiri’na nade’ namaega nawa-nawanna temmaseleng nappebali makkeda :
Bettuanna : eh ….ambokku tapaddupani aga napparentang puang Allah ta’ala mattipi insya Allah talolongekka saisa tau sabbara.

Umma' selleng engkae hadere'...

Naiyya riwettu maelo’na ibrahim tiwi’I ana’na rionrong aggeresenna napodanni bainena st. hajar sarekkuammengngi napappakeiwi ana’na nasaba pakeang kaminang makessin, inappa mala piso nenniya tulu’
Naiyya riwettu lettuna rionring aggeresengnge riseddena mina, poleni iblis maelo pakatulu-tului nakkedaiwi ibrahim pekkogitu tamaelo gere’I ana’ta? Nadegaharo taitai temmaka kessinna ampena, nakkeda ibrahim temmakaharo opojinna anakku naikiya napparenaiyakka puakku gere’I, naulebbirengngi paddioloi pappojikku ripuakku naiyya pappojikku rianakku. Aga nalaosi iblis ri st. hajar nakkeda : magiharo monro kotu mabbe-bebe naengkaiharo lakkaimmu maelo gere’I ana’mu, nakkedana st. hajar namuni iya tunru tokka nagere, narekko parentana mua puang Allah ta’ala naoncoppasiha narekko ana’kku mua, aga nalaosi iblis ri ismail nakkeda eh… ismail magi nade muna mumaseleng, namaeloi hatu ambu’mu gerekko, aga nappebalina ismail makkeda :
Bettuanna : kuwengkalingani nenniya kuturusitoni parentana puakku
Nasimata makkuraga mupa iblis, aga narirempe’na batu ritu ri ismail iyatonaro saba nanariwajikeng pahajiie maddempe rimina, sikira-kira maddukka risetangnge nenniya akkacoe rinabi ismail.

Riwettu de’napa nagere’I ana’na ibrahim, mappasengngi ritu ismail ri ambo’na nasab pappaseng dua tellu, makkeda :
- Eh…ambokku tasioi kasi duae limakku tataroi masse aja urapa-rapa riwettu tagerekku nassabari upeddiriko ambo
- Eh…ambokku tapangngoloi kasi rupakku ritanae bara aja taitaka nassabari namasse nyawata mitaka ambo
- Eh… ambokku talillingngi kasi pakeyatta, sarekkuammangngi aja natabbessiri dara, nassabari namakurang appalakku nannenia nassabari namasse babuana indokku narekko naitai daraku
- Eh…. Ambokku tataroi matareng pisota nenniya tapassitakiwi narekko tagerekka, sarekkoammengngi namalomo kasi riseseku
- Eh… ambokku nareko lisuki ribola’e tapaletturellaloka kasi selleng mappakarajaku ri indo’ku, nenniya tasuroi kasi sabbarakengngi parentana puang Allah ta’ala sarekkuammangngi nalolongengngi suruga pammasena puang Allah ta’ala
- Eh… ambokku aja lalo kasi talorangngi anana oroawane lao rindokku, sarekkowammengngi de’ nasimata mompo paresse babuwana kasi indokku lao riya.

Umma' selleng engkae hadere'...

Aga riwettu purana mappaseng ismail, nappesonana iya dua lao ripung Allah ta’ala nenniya napaleu toni ritu ibrahim ana’na rigau engkana nabaca “BISMILLAHI ALLAHU AKBAR” naenappa nagere’, naikiya teyai makkanre pisoe, ure tea pettu, dara tea mitti, uli tea sape, juku tea malara, nasaba elo’na puang Allah ta’ala temmakkanre pisoe nakkeda ismail eh….ambokku aja taitai rupakku nasaba napoleiki tu esse babua nassabari natea makkanre piso’e. aga nabettanni pisona ibrahim ribatu’e namapue duana batu’e napakkua tarenna. Nakkedana ibrahim ripiso’e : magi mulle puei batu’e, naellonna ismail de’ mulle manrei akuasanna puang Allah ta’ala mette’I piso’e mappibali makkeda : eh…ibrahim musuroka manrei ellonna ismail nappesangkaika puakku. Aga naengkalingana obbi pole ripuang Allah ta’ala :
Bettuanna : nariollina ibrahim makkeda : eh….ibarahim mupadupani nipimmu, makkuniro riwerengngi pamale risinna tau mappidecengnge, iyae gau mancaji paccoba maraja”
Aga narisellengenna nasaba kibase pole risuruga, iya natiwi’emalaikat jibril. Iyatonaro saba’na nassuroang toi surona puang Allah ta’ala akkorobangnge, iya mancajie laleng maalebbinarigau engkana nappatu-patukeng maladde risesena idi tau masagenae. Makkedai nabitta SAW.
Bettuanna: nigi-nigi lolongeng asagenang wedding makkoroba, nade’ nakkoroba, aja lalo nahaderekiwi allepperengnge

Umma' selleng engkae hadere'...

Jaji nasseriki mala akkalarapangeng sininna idi ummana nabitta SAW, idi sininna tomatowa malebbikku, alaki contoh rinabi ibrahim napasilennerengngi parentana puang Allah ta’ala namuni an’na rela nakorbangkan, apalagi idi ummana nabitta SAW. Nasuromi bawang makkoroba sibawa sapi yarega bembe sesuai sibawa kemampuatta. Idi sininna makkunraiye, alaki contoh ri st. hajar bainena pakkulutta ibrahim de’na halang-halangi lakkainna padupai parentana puang Allah ta’ala yakkeppaha nasuromi/napanggesiwi, idi sinina silessurekku pemuda dan pemudi pada alaki contoh rinabi ismail namuni alena, jiwana rela nakorbangkan nasaba parentana puang Allah ta’ala natenna jampangi sininna engkae mappakabiling piling untuk papolei parentana puang Allah ta’ala, nalai pringsip makkeda : n
Bangkung mememma ri abbettang, aju memeng ripasanre, polopa panni passuroammi kuturusi.
Jsji pada laoi mai natapa millau doang ripuang Allah ta’ala makkeda : eh…..puang engkaki maiye.. pada pura pasilennerengngi alleppereng koroba’e, de’ lain riakkattai sanggadinna riota nenniya pammaseta puang. Mamuare nasimata rikkatenni masse agamata, waekkeng temmalore’ bokong ampe kale mamuare assitemmereng ritu natattimpa minasae /hajja’e, nassiruju-rujukeng assisompungetta padatta rupatau iyarega tau mapparentat, tatuju laleng pennie, muttama rimasigie nattakatoro pabbanuae, naenceng pulana wassele’na pallaoromae, natuju laleng generasi mudae iya mula pekke’e. naengkani malomo bangungngi kampotta PALLOBORENG SEGERI PANGKEP dalam rangka pembagunan indonesia adil dan makmur sejahtera, aman lahir dan batin. BARAKALLAHULII WALAKUM FIL QUR’ANIL KARIM WAANAFA’NII WAUYYAKUM FIL QUR’ANIL HAKIM

Baca Selengkapnya ...

Budaya Kita

Aspek budaya suatu daerah dapat berfungsi sebagai faktor pendukung maupun faktor penghambat bagi kegiatan pembangunan daerah. Namun tidak demikian halnya dengan Kabupaten Bone, bahwa budaya menjadi kekuatan seperti dituturkan dalam bahasa daerah sebagai berikut :

“PATUPPUI RI ADE’-E, PASANRE’I RI SARA’-E, ATTANGA’KO RI RAPANGNG-E, ASSUKE’KO GAU‘ PURALLALO-E, PATTARETTE’I RI WARI’-E, AJA’MUALAI PAPPEGAU’ GAU’ TENRI POBIASANGNG-E”, yang artinya : “ Budaya yang bersendikan adat, sandarkan kepada syara’, perhatikan sejarah, contohilah kejadian baik yang pernah terjadi, laksanakan pekerjaan sesuai tata tertibnya, dan jangan melakukan sesuatu diluar kebiasaan”.

Bagi masyarakat Kabupaten Bone yang telah memiliki satu kekuatan budaya dalam tataran “WIJA TO BONE”, dengan ajaran hidup dari LA GALIGO merupakan peninggalan asset budaya yang amat dahsyat dan bersifat magis, sangat sarat dengan nilai-nilai budaya sebagai acuan dalam bersikap.

Inilah milik masyarakat Bone pada umumnya berupa PANGNGADERRENG (ADAT) selaku wujud totalitas dan Universalisme Kebudayaan yang memiliki 5 (lima) unsur yakni :

1. ADE = Aturan perilaku didalam masyarakat, berupa kaidah kehidupan yang mengikat semua warga masyarakat

2. BICARA = Aturan peradilan yang menentukan sesuatu hal yang adil dan benar maupun sebaliknya yang curang dan salah

3. WARI = Aturan ketatalaksanaan yang mengatur segala sesuatu yang berkenaan dengan kewajaran dalam hubungan kekerabatan dan silsilah

4. RAPANG = Aturan yang menempatkan kejadian atau ikhwal masa lalu sebagai teladan atau kejadian yang patut diperhatikan atau diikuti bagi keperluan masa kini dan masa depan

5. SARA’ = Aturan atau Syariat Islam, yang menjadi unsur pangngadarreng pada sekitar tahun 1611 M, pada saat Islam diterima sebagai agama resmi dan umum pada masyarakat Bugis – Makassar

Kelima unsur pangngadarreng ini didirikan diatas landasan KONSEP SIRI yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia (harga diri), dimana kita disebut manusia karena memiliki SIRI (harga diri) sebagai ciptaan, Allah SWT yang paling sempurna dan mulia.

Sikap masyarakat Kabupaten Bone, sebagaimana masyarakat lainnya di jazirah Sulawesi juga mempunyai pegangan (AKKATENNINGENG) sebagai salah satu pengaturan hukum adat istiadat, yang juga berbilangan 5 (lima) seperti berikut :

1. GETTENG = Sifat keteguhan akan pendirian dan kenyakinan yang benar, dimana bahwa kebenaran yang telah dianut, maka manusia harus teguh pada kenyakinannya yang tidak dapat digoyahkan, didalam bahasa agama ISLAM adalah ISTIQOMAH ( Konsisten konsekuen ) memegang kebenaran yang hakiki

2. LEMPU’ = Lurus dan jujur terhadap harta yang diperoleh

3. ADA TONGENG = Kata-kata/ucapan yang benar, yang berarti bahwa telah menyatunya antara ucapan dan perbuatan

4. SIPAKATAU = Sikap saling memanusiakan, atau saling menghargai sesama manusia tanpa memandang status dan kepangkatan yang bersifat duniawi

5. MAPPESONA RI = Sikap berserah diri pada TUHAN YANG MAHA ESA DEWATA SEUAE atau apa yang kita kenal dengan TAWAKKAL.

DEMOKRASI (AMARADEKANGENG)
Kata amaradekangeng berasal dari kata maradeka yang berarti merdeka atau bebas. Pengertian tentang kemerdekaan ditegaskan dalam Lontarak sebagai berikut. Naia riasennge maradeka, tellumi pannessai : Seuani, tenrilawai ri olona. Maduanna, tenriangkai' riada-adanna. Matellunna, tenri atteanngi lao ma-niang, lao manorang, lao orai, lao alau, lao ri ase, lao ri awa.
Yang disebut merdeka (bebas) hanya tiga hal yang menentukannya:
pertama, tidak dihalangi kehendaknya; kedua, tidak dilarang mengeluarkan pendapat; ketiga, tidak dilarang ke Selatan, ke Utara, Ke Barat, ke Timur, ke atas dan ke bawah. Itulah hak-hak kebebasan.)
Demokrasi sebagai bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara terungkap dalam sastra Bugis sebagai berikut.

Rusa taro arung, tenrusa taro ade,
Rusa taro ade, tenrusa taro anang,
Rusa taro anang, tenrusa taro tomaega.
(Batal ketetapan raja, tidak batal ketetapan adat, Batal ketetapan adat, tidak batal ketetapan kaum Batal ketetapan kaum, tidak batal ketetapan orang banyak)
Dalam ungkapan itu, jelas tergambar bahwa kedudukan rakyat amat besar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Rakyat berarti segala-galanya bagi negara. Raja atau penguasa hanyalah merupakan segelintir manusia yang diberi kepercayaan untuk mengurus administrasi, keamanaan, dan pelaksanaan pemerintahan negara (Said, 1998). Konsep di atas sejalan dengan konsep demokrasi yang dianut saat ini yang mana kedaulatan ada di tangan rakyat. Kata "demokrasi" berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Dari kutipan itu, jelas tergambar bahwa kekuatan berada di tangan rakyat, bukan di tangan raja. Jika hal ini dihubungkan dengan teori demokrasi Rousseau tentang volonte generale atau kehenak umum dan volonte de tous atau kehendak khusus, jelas tergambar bahwa teori Rousseau berkesesuaian dengan sistem pemerintahan yang dikembangkan di Tanah Bugis yaitu apabila dua kepentingan (antara penguasa dan rakyat) bertabrakan, kepentingan yang harus dimenangkan adalah kepentingan rakyat (umum).
Dalam menjalankan pemerintahan, raja selalu berusaha untuk bertindak secara ekstra hati-hati. Sesuatu yang akan dibebankan kepada rakyat haruslah terlebih dahulu dipertimbangkan. Artinya, acuan utama dari setiap tindakan adalah rakyat. Hal tersebut tertuang dalam Getteng Bicara (undang-undang) sebagai berikut. "Takaranku kupakai menakar, timbanganku kupakai menimbang, yang rendah saya tempatkan di bawah, yang tengah saya tempatkan di tengah, yang tinggi saya tempatkan di atas."

Ketetapan hukum yang tergambar dalam getteng bicara di tanah Bugis menunjukkan bahwa raja tidak akan memutuskan suatu kebijakan bila raja itu sendiri tidak merasa nyaman. Raja menjadikan dirinya sebagai ukuran dan selalu berusaha berbuat sepatutnya. Dari argumentasi itu, jelas tergambar bahwa negara adalah sepenuhnya milik rakyat dan bukan milik raja. Raja tidak dapat berbuat sekehendak hatinya kepada negara yang menjadi milik dari rakyat itu. Raja sama sekali tidak dapat membuat peraturan dengan seenaknya, terutama menyangkut kepentingan dirinya atau keluarganya. Semua peraturan yang akan ditetapkan oleh raja harus melalui persetujuan dari kalangan wakil rakyat yang telah mendapatkan kepercayaan dari rakyat. Jika raja melanggar ketentuan itu, berarti raja telah melanggar kedaulatan rakyat.

Adat menjamin hak dan protes rakyat dengan lima cara sebagai berikut :
1. Mannganro ri ade', memohon petisi atau mengajukan permohonan kepada raja untuk mengadakan suatu pertemuan tentang hal-hal yang mengganggu, seperti kemarau panjang karena dimungkinkan sebagai akibat kesalahan pemerintah.

2. Mapputane', menyampaikan keberatan atau protes atas perintah-perintah yang memberatkan rakyat dengan menghadap raja. Jika itu menyangkut kelompok, maka mereka diwakili oleh kelompok kaumnya untuk menghadap raja, tetapi jika perseorangan, langsung menghadap raja.

3. Mallimpo-ade', protes yang mendesak adat karena perbuatan sewenang-wenang raja, dan karena usaha melalui mapputane' gagal. Orang banyak, tetapi tanpa perlengkapan senjata mengadakan pertemuan dengan para pejabat negara dan tidak meninggalkan tempat itu kecuali permasalahannya selesai.

4. Mabbarata, protes keras rakyat atau kaum terhadap raja, karena secara prinsipial masyarakat merasa telah diperlakukan tidak sesuai dengan panngadereng oleh raja, keluarga raja, atau pejabat kerajaan. Masyarakat atau kaum berkumpul di balai pertemuan (baruga) dan mendesak agar masalahnya segera ditangani. Kalau tidak, rakyat atau kaum bisa mengamuk yang bisa berakibat sangat fatal pada keadaan negara.

5. Mallekke' dapureng, tindakan protes rakyat dengan berpindah ke negeri lain. Hal ini dilakukan karena sudah tidak mampu melihat kesewenang-wenangan di dalam negerinya dan protes-protes lain tidak ampuh. Mereka berkata: "Kamilah yang memecat raja atau adat, karena kami sekarang melepaskan diri dari kekuasaannya".(Mattulada, 1985)

Hak koreksi rakyat terhadap perbuatan sewenang-wenang pemimpin atau pejabat negara, merupakan bukti bahwa kehidupan bernegara manusia Bugis menekankan unsur "demokrasi".

KEPATUTAN (MAPPASITINAJA)

Mappasitinaja berasal dari kata sitinaja yang berarti pantas, wajar atau patut. Mappasitinaja berarti berkata atau berbuat patut atau memperlakukan seseorang secara wajar. Definisi kewajaran diungkapkan oleh cendekiawan Luwu sebagaimana dikutip oleh Ambo Enre (1992) sebagai berikut.

Ri pariajanngi ri ajannge, ri parialau'i alau'e, ri parimanianngi maniannge, ri pariase'i ri ase'e, ri pariawai ri awae.

(Ditempatkan di Barat yang di Barat, ditempatkan di Timur yang di Timur, ditempatkan di Selatan yang di Selatan, ditempatkan di atas yang di atas, ditempatkan di bawah yang di bawah.)

Dari ungkapan itu, tergambar bahwa seseorang dikatakan bertindak patut atau wajar bila ia mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Seseorang yang bertindak wajar berarti ia mampu menempatkan dirinya sesuai dengan kedudukannya. Ia tidak menyerakahi hak-hak orang lain, melainkan memahami hak-haknya sendiri. Di samping itu, ia pula dapat memperlakukan orang lain pada tempatnya. Ia sadar bahwa orang lain mempunyai hak-hak yang patut dihormati.

Perbuatan wajar atau patut, dalam bahasa Bugis biasa juga disebut mappasikua. Seorang yang berbuat wajar dalam arti mappasikoa berarti ia merasa cukup atas sesuatu yang dimilikinya. Ia bertindak sederhana. Dicontohkan oleh Rahim (1985), tentang sikap wajar Puang Rimaggalatung. Puang Rimaggalatung pernah berkali-kali menolak tawaran rakyat Wajo untuk diangkat menjadi Arung Matoa Wajo atas kematian Batara Wajo III yang bernama La Pateddungi Tosamallangi. Bukannya beliau tidak mampu memangku jabatan yang ditawarkan kepadanya, tetapi ia sadar bahwa jabatan itu sungguh sulit untuk diembannya. Namun, karena Adat (para wakil rakyat) dan rakyat Wajo sendiri merasa bahwa beliau pantas memimpin mereka, akhirnya tawaran itu diterima.

Aja' muangoai onrong, aja' to muacinnai tanre tudangeng, de'tu mullei padecengi tana. Risappa'po muompo, ri jello'po muompo, ri jello'po muakkengau.
(Jangan serakahi kedudukan, jangan pula terlalu menginginkan kedudukan tinggi, jangan sampai kamu tidak mampu memperbaiki negeri. Bila dicari barulah kamu muncul, bila ditunjuk barulah kamu mengia.)
Ungkapan lain yang menganjurkan manusia berbuat wajar adalah sebagai berikut :

Duampuangenngi ritu gau sisappa nasilolongeng, gau madecennge enrennge sitinajae. Iapa ritu namadeceng narekko silolongenngi duampuangennge. Naia lolongenna ritu:
 narekko ripabbiasai aleta manggau madeceng, mauni engkamuna maperri ri pogaumuiritu.
 Pakatunai alemu ri sitinajae
 Saroko mase ri sitinajae
 Moloi roppo-roppo narewe
 Moloi laleng namatike nasanresengngi ri Dewata Seuwae
 Akkareso patuju.
(Dua hal saling mencari lalu bersua, yakni perbuatan baik dan yang pantas. Barulah baik bila keduanya berpadu. Cara memadukannya ialah :
a. Membiasakan diri berbuat baik meskipun sulit dilakukan.
b. Rendahkanlah dirimu sepantasnya.
c. Ambillah hati orang sepantasnya
d. Menghadapi semak-semak ia surut langkah
e. Melalui jalan ia berhati-hati dan menyandarkan diri kepada Tuhan Berusahalah dengan benar.)
Sebaliknya, lawan dari kata patut adalah berlebih-lebihan dan serakah. Watak serakah diawali keinginan untuk menang sendiri. Keinginan untuk menang sendiri dapat menghasilkan pertentangan-pertentangan dan menutup kemungkinan untuk mendapatkan restu dari pihak lain. Manusia yang berbuat serakah, justru akan menghancurkan dirinya sendiri karena orang lain akan menjauhinya. Dan apabila hati manusia dipenuhi sifat serakah, maka tiada lagi kebaikan yang bisa diharapkan dari manusia itu. Dalam Lontarak disebutkan:

Cecceng ponna cangnga tenngana sapu ripale cappa'na
(Serakah awalnya, menang sendiri pertengahannya, kehilangan sama sekali akhirnya.)

Jadi, Lontarak amat menekankan pentingnya manusia berbuat secara wajar, seperti dapat disimak dalam ungkapan:

Aja' mugaukenngi padammu tau ri gau' tessitinajae
(Jangan engkau melakukan sesuatu yang tidak patut terhadap sesamamu manusia)
Selanjutnya, Lontarak memperingatkan bahwa sifat serakah atau tamak, sewenang-wenang, curang, perbuatan tega atau tidak menaruh belas kasihan kepada orang lain dapat menghancurkan nilai kepatutan dan dapat menimbulkan kerusakan dalam negara. Pertama, keserahan atau ketamakan, menghilangkan rasa malu sehingga mengambil hak-hak orang lain bukan lagi hal yang tabu. Karena, orang yang bersifat serakah atau tamak tidak pernah merasa cukup sehingga apa yang dimiliki selalu dianggap kurang. Kedua, kekerasan akan menyebabkan melenyapkan kasih sayang di dalam negeri. Artinya, rakyat kecil harus mendapat perlindungan demi tegaknya suatu negara, tetapi kalau pihak yang berkuasa berbuat sewenang-wenang (hanya unjuk kekuatan) berarti kasih sayangnya kepada masyarakat akan hilang yang sekaligus memperlemah kedaulatan rakyat. Ketiga, kecurangan akan memutuskan hubungan keluarga. Artinya, orang yang curang tidak pernah merasa puas atas hak-haknya sendiri. Ia selalu berpikir untuk memiliki hak-hak orang lain. Orang seperti itu, akan menemukan kesulitan dalam hidupnya karena tidak ada orang yang akan mempercayainya. Keempat, perbuatan tega terhadap sesama manusia, melenyapkan kebenaran di dalam negeri. Artinya, para pejabat negeri dituntut untuk berbuat adil kepada rakyatnya. Berbuat tidak adil berarti kebenaran dilecehkan dan bila kebenaran dilecehkan berarti kehancuran bagi negeri. Karena itu, agar negara selamat dan berhasil, para pemimpin haruslah berbekal kejujuran disertai dengan kepatutan. (portalbugis.com)


KESETIAKAWANAN (ASSIMELLERENG)

Konsep assimellereng mengandung makna kesehatian, kerukunan, kesatupaduan antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga lain, antara seorang sahabat dengan sahabat yang lain. Memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi, setia kawan, cepat merasakan penderitaan orang lain, tidak tega membiarkan saudaranya berada dalam keadaan menderita, dan cepat mengambil tindakan penyelamatan atas musibah yang menimpa seseorang, dikenal dengan konsep "sipa'depu-repu" (saling memelihara). Sebaliknya, orang yang tidak mempedulikan kesulitan sanak keluarganya, tetangganya, atau orang lain sekali pun disebut bette' perru.

Dalam kehidupan sehari-hari, manifestasi kesehatian dan kerukunan itu disebutkan dalam sebuah ungkapan Bugis:
"tejjali tettappere , banna mase-mase".
Ungkapan tersebut biasanya diucapkan ketika seorang tuan rumah kedatangan tamu. Maksudnya adalah "kami tidak mempunyai apa-apa untuk kami suguhkan kepada tuan. Kami tidak mempunyai permadani atau sofa yang empuk untuk tuan duduki. Yang kami miliki adalah kasih sayang.

Lontarak sangat menganjurkan manusia memiliki perasaan kemanusiaan yang tinggi, rela berkorban menghormati hak-hak kemanusiaan seseorang, demi kesetiakawanan atau solidaritas antara sesama manusia, berusaha membantu orang, suka menolong orang menderita, berkorban demi meringankan penderitaan dan kepedihan orang lain dan berusaha pula untuk membagi kepedihan itu ke dalam dirinya. Dalam Lontarak disebutkan:

Iya padecengi assiajingeng :
 Sianrasa-rasannge nasiammase-maseie;
 Sipakario-rio;
 Tessicirinnaiannge ri sitinajae;
 Sipakainge' ri gau' patujue;
 Siaddappengeng pulanae.
(Yang memperbaiki hubungan kekeluargaan yaitu :
 Sependeritaan dan kasih-mengasihi;
 Gembira menggembirakan;
 Rela merelakan harta benda dalam batas-batas yang wajar;
 Ingat memperingati dalam hal-hal yang benar;
 Selalu memaafkan.)
Dorongan perasaan solidaritas untuk membela, menegakkan, memperjuangkan harkat kemanusiaan orang lain atau perasaan senasib sepenanggungan di antara keluarga, kerabat, dan masyarakat dilukiskan dalam ungkapan-ungkapan Lontarak sebagai berikut :

Eppai rupanna padecengi asseajingeng:
 Sialurusennge' siamaseng masseajing;
 Siadampengeng pulanae masseajing;
 Tessicirinnaiannge warangparang masseajing, ri sesena gau' sitinajae;
 Sipakainge' pulannae masseajing ri sesena gau' patujue sibawa winru' madeceng.

( Empat hal yang mengeratkan hubungan kekeluargaan :

 Senantiasa kasih mengasihi sekeluarga;
 Maaf memaafkan sekeluarga;
 Rela merelakan sebagian harta benda sekeluarga dalam batas-batas yang layak;
 Ingat memperingati sekeluarga demi kebenaran dan tujuan yang baik.)

MOTIVASI (RESO TEMMANGINGNGI)

Dalam hal motivasi berprestasi, terungkap dalam ungkapan Bugis dengan istilah reso (usaha keras). Untuk mencapai prestasi reso merupakan syarat utama. Hal ini menunjukkan bahwa dalam perjuangan untuk mencapai suatu keberhasilan, seseorang haruslah pantang menyerah; ia harus tampil sebagai pemenang. Ungkapan Lontarak berikut mengisyaratkan betapa pentingnya melakukan gerak cepat agar orang lain tidak mendahului kita dalam bertindak:

Aja' mumaelo' ribetta makkalla ri cappa alletennge
(Janganlah mau didahului menginjakkan kaki di ujung titian.)
Ungkapan di atas memberi pelajaran bahwa dalam hidup ini terdapat persaingan yang cukup ketat dan untuk memenangkan persaingan itu, semua kemampuan yang ada harus dimanfaatkan. Titian yang hanya dapat dilalui oleh seorang saja dan siapa yang terdahulu menginjakkan kaki pada titian itu, berarti dialah yang berhak meniti terlebih dahulu. Ini berarti bahwa bertindak cepat dengan penuh keberanian, walaupun mengandung risiko besar merupakan syarat mutlak untuk menjadi pemenang. Namun demikian, tidak ada keberuntungan besar tanpa perbuatan besar dan tidak ada perbuatan besar tanpa risiko yang
besar. Dalam sebuah ungkapan Lontarak ditekankan:

Resopa natinulu, natemmanginngi malomo naletei pammase Dewata Seuwaee.
(Hanya dengan kerja keras dan ketekunan, sering menjadi titian rahmat Ilahi.)

Ungkapan itu memberi pelajaran bahwa untuk memperoleh keberhasilan, seseorang tidak hanya berdo'a, tetapi harus bekerja keras dan tekun.

Ambo Enre (1992) mengutip sebuah ungkapan pesan Bugis bagi perantau-perantau sebelum meninggalkan kampung halaman sebagai berikut.

Akkellu peppeko mulao,
a'bulu rompeko murewe'.

(Bergundul licinlah engkau pergi, berbulu suaklah engkau kembali).
Pesan itu diperuntukkan kepada para perantau agar terdorong bekerja keras di negeri rantauannya. Serta mempunyai tekad yang kuat untuk tidak kembali ke kampung halamannya sebelum berhasil. Dalam kaitannya dengan usaha, waktu atau kesempatan merupakan salah satu faktor penentu dalam meraih kemenangan (Tang, 2007). Hal ini ditegaskan dalam ungkapan Bugis disebutkan:

Onroko mammatu-matu napole marakkae naia makkalu
(Tinggallah engkau bermalas-malas hingga kelak datang yang gesit lalu menguasai)

Selain pentingnya menghargai waktu/kesempatan, pentingnya seseorang menghindari perbuatan memetik keuntungan dari hasil jerih payah orang lain, tergambar dalam ungkapan berikut.

Temmasiri kajompie, tania ttaro rampingeng, naia makkalu.
(Tak malu nian si Buncis, bukan ia menyimpan penyanggah, ia yang memanjat)

Ungkapan itu menganjurkan bahwa untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, seseorang dituntut bekerja keras, tidak menyandarkan harapannya kepada orang lain.
Baca Selengkapnya ...

Situs Sejarah Tana Bone

Situs Sejarah Bugis Bone merupakan lokasi atau tempat yang menjadi sejarah bagi rakyat Bugis Bone dan juga menjadi bagian tempat sejarah negara Indonesia. Lokasinya disekitar Watampone Kabupaten Bone Sulawesi Selatan.
Bugis merupakan suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.
Kerajaan Bugis klasik antara lain :
Bone,
Luwu,
Wajo,
Soppeng,
Suppa,
Sawitto,
Sidenreng,
Rappang.

Bola Soba


Rumah yang berbentuk panggung dan biasanya memiliki 3 bagian yaitu bagian atas, tengah dan bawah. RUmah ini menjadi inspirasi bagi pembangunan Rumah Besar (Saoraja). Bagian atas untuk menyimpan (lumbung) padi/makanan. Tempat tinggal ada di bagian tengah. Sejak jaman Belanda sudah jarang dibangun Rumah Adat Bone dengan kayu, lebih banyak dari semen. Sekarang masih tersisa di daerah Watampone.

Patung Arung Palakka


Raja pemersatu rakyat Bugis dan wilayah Sulawesi, gagah berani dan mempunyai sifat terpuji. Pahlawan Bone, Pahlawan Kemanusiaan. Arung Palakka yang mengeluarkan masyarakat Bone dari garis kemiskinan dan tindasan kerajaan lain.

Masjid Tua Al Mujahidin


Merupakan salah satu jejak Islam di Tanah Bone. Berada di tengah-tengah kota Watampone. Mesjid ini masih asli dan merupakan salah satu dari jejak Islam di Sulawesi. Memiliki sebuah tembok pertahanan dengan tebal sekitar 1 meter.

Tana Bangkala'e


Dahulu kerajaan di tanah Sulawesi sering terjadi selisih paham semisal antara Kerajaan Goa, Kerajaan Bone, dan Kerajaan Luwu. Untuk mempersatukannya dibentuklah simbol pemersatu ketiga kerajaan itu. Tanah Bangkalae itu merupakan penyatuan tanah dari 3 kerajaan tersebut dengan tujuan agar ke-3 kerajaan tersebut bersatu. Menjadi tempat pelantikan raja yang dimulai dari Raja Bone saat itu yaitu Raja Bone ke 16. Tanah Bangkalae adalah tanah tempat pelantikan raja, berwarna kemerah-merahan, dan dianggap sebagai Tanah Dewa.

Saoraja Petta Ponggawae


Rumah Besar Bola Soba bertingkat 5 milik seorang raja Bone untuk panglimanya. Rumah ini adalah Istana Panglima Perang Bone dengan atap bertingkat 4, sedangkan rumah Raja memiliki atap bertingkat 5. Sekarang menjadi tempat pelestarian budaya Bugis Bone.
Merupakan rumah Raja Bone ke-31, Andi Mapparinggi bergelar LAWAWOWOI KARAENG SIGERI MATINROE RI BANDUNG, yang dijadikan sebagian rumahnya dijadikan museum Bugis Bone. Museum ini menjadi tempat penyimpanan benda-benda seni dan budaya tradisional Bugis Bone. Dahulunya pernah menjadi gedung DPRD Kabupaten Bone. Menyimpan gambar raja-raja Bone dan benda-benda duplikat upacara adat istiadat Bone.

Arajangnge


Menyimpan benda-benda milik Arung Palakka yang juga merupakan benda-benda pusaka seperti Payung Emas, Payung Perak, Sarung dan Pegangan, serta Selempang/Salimpang Emas (Sembangengpulaweng) yang panjangnya 177 cm dengan berat 5 kg emas murni 24 karat. Setiap tahunnya dilakukan pembersihan benda-benda bersejarah dan sakral tersebut. Museum ini dibuka setahun sekali pada hari jadi Tanah Bone mengingat banyak benda bersejarah yang sangat perlu dilindungi.

Situs Manurungnge Ri Matajang

Disinilah tempat terjadi kontrak pemerintah Rakyat Bone (Tujuh raja-raja kecil) dengan Manurung E.rimatajang Raja Bone Pertama pada tanggal 16 April 1330 dan menjadi hari lahirnya Kabupaten Bone. Berada di lokasi Kecamatan Tanete Riatan. Manurung merupakan manusia suci yang turun dari langit. Manurunge adalah pemersatu rakyat yang bertikai saat itu (matoa-mata) ke dalam Kerajaan Bone. Raja Manurung E.ri sebenarnya tidak diketahui asal usulnya sehingga di gelar Manusia Suci yang Turun dari Langit.
Berkata rakyat Tana Bone,
"agar menetaplah di Tanah Bone
dan engkau yang kami angkat menjadi
raja untuk memimpin kami, namun
anak dan istri kami, bila engkau
tidak menyetujuinya, kamipun
menurut kepadamu, asalkan engkau
.... keselamatan kami dan ....."
Maaf tulisan tidak lengkap

Dan berkata Manurung E.ri,
"Saya menjunjung tinggi di atas kepala saya dan menghargai kata-kata dan persatuanmu untuk mengangkat saya menjadi raja."

Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue. Manurungnge ri Matajang dikenal juga dengan nama Mata Silompoe. Adapun ade' pitue terdiri dari matoa ta, matoa tibojong, matoa tanete riattang, matoa tanete riawang, matoa macege, matoa ponceng. istilah matoa kemudian menjadi arung. setelah Manurungnge ri Matajang, kerajaan Bone dipimpin oleh putranya yaitu La Ummasa' Petta Panre Bessie. Kemudian kemanakan La Ummasa' anak dari adiknya yang menikah raja Palakka lahirlah La Saliyu Kerrempelua. pada masa Arumpone (gelar raja bone) ketiga ini, secara massif Bone semakin memperluas wilayahnya ke utara, selatan dan barat.

Situs Perjanjian Tellu Boccoe

Tempat perjanjian Raja Bone, Raja Wajo dan Raja Soppeng. Bunyi perjanjian itu "Barang siapa pihak kerajaan yang melihat cahaya titik cahaya terang, maka kerajaan itu yang berhak memberitahu saudara-saudaranya yang berjanji". Inilah kesepakatan ketiga kerajaan itu dalam menghadapi musuh-musuh yang ingin menghancurkan daerah tersebut. Mereka bekerjasama, sebuah perjanjian suci untuk saling bahu-membahu menghadapi musuh.
Baca Selengkapnya ...

Lontara' (Lontar)

POHON LONTAR (Borassus flabellifer)
Pohon Lontar (dalam bahasa Bugis disebut batang ta" buahnya disebut bota..' atau buata..')
kalau Anda ingin menikmati buah lontar atau Bota..' silakan ke Bone he...he...

Sejenis palem berbatang satu yg kuat & kokoh, dgn tinggi 15-30m, batangnya ke arah ujung & pangkal membesar dgn daun membentuk tajuk. Pelepah yg lebar serta pd bgn atas hitam, bunga jantan di dlm alur spt yg ada pd tanduk, bunga betina poros bulir dgn daun pelindung yg besar. Buahnya bulat peluru berdiameter 7-20cm, tenda bunga membesar, dinding buah tengah berserabut dgn buah keras 3, lepas & putik lembaga berongga. Tumbuhan ini banyak dimanfaatkan daging buahnya.
Lontar yang Masih Kosong

Lontar (dari bahasa Jawa: ron tal, "daun tal") adalah daun siwalan atau tal (Borassus flabellifer atau palmyra) yang dikeringkan dan dipakai sebagai bahan naskah dan kerajinan. Artikel ini terutama membahas lontar sebagai bahan naskah manuskrip.

Lontar Sebagai bahan Naskah.
Contoh Lontar yang berisi doa-doa Kristen dari India Selatan

Contoh Lontar dari Nepal
Contoh Lontar dari Bali
Lontara Sulawesi
Pisau untuk menulis Lontara

Lontar sebagai bahan naskah dipakai di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Nusantara banyak ditemukan naskah lontar dari Sunda (Jawa Barat), Jawa, Bali, Madura, Lombok, dan Sulawesi Selatan.

Proses Pembuatan Lontara
Di pulau Bali, daun-daun lontar sebagai alat tulis masih dibuat sampai sekarang. Pertama-tama daun-daun pohon siwalan dipetik dari pohon. Pemetikan biasa dilakukan pada bulan Maret/April atau September/Oktober karena daun-daun pada masa ini sudah tua. Kemudian daun-daun dipotong secara kasar dan dijemur menggunakan panas matahari. Proses ini membuat warna daun yang semula hijau menjadi kekuningan. Lalu daun-daun direndam di dalam air yang mengalir selama beberapa hari dan kemudian digosok bersih dengan serbet atau serabut kelapa.
Setelah daun-daun dijemur kembali, tapi sekarang kadang-kala daun-daun sudah dipotong dan diikat. Lalu lidinya juga dipotong dan dibuang. Setelah kering daun-daun lalu direbus dalam sebuah kuali besar dicampur dengan beberapa ramuan. Tujuannya ialah membersihkan daun-daun dari sisa kotoran dan melestarikan struktur daun supaya tetap bagus.
Setelah direbus selama kurang lebih 8 jam, daun-daun diangkat dan dijemur kembali di atas tanah. Lalu pada sore hari daun-daun diambil dan tanah di bawah dedaunan dibasahi dengan air kemudian daun-daun ditaruh kembali supaya lembab dan menjadi lurus. Lalu keesokan harinya diambil dan dibersihkan dengan sebuah lap. Lalu daun-daun ditumpuk dan dipres pada sebuah alat yang di Bali disebut sebagai pamlagbagan. Alat ini merupakan penjepit kayu yang berukuran sangat besar. Daun-daun ini dipres selama kurang lebih enam bulan. Namun setiap dua minggu diangkat dan dibersihkan.
Setelah itu daun-daun dipotong lagi sesuai ukuran yang diminta dan diberi tiga lubang: di ujung kiri, tengah, dan ujung kanan. Jarak dari lubang tengah ke ujung kiri harus lebih pendek daripada ke ujung kanan. Hal ini dimaksudkan sebagai penanda pada saat penulisan nanti. Tepi-tepi lontar juga dicat, biasanya dengan cat warna merah. Lontar sekarang siap ditulisi dan disebut dengan istilah pepesan dalam bahasa Bali dan sebuah lembar lontar disebut sebagai lempir.

Proses Penulisan Lontara
Setiap lempir lontar yang akan ditulisi, biasanya diberi garis dahulu supaya nanti kalau menulis tidak mencong-mencong. Hal ini dilakukan dengan menggunakan sebuah alat yang disebut panyipatan. Tali-tali kecil direntangkan pada dua paku bambu. Lalu dibawahnya ditaruh lempir-lempir lontar. Tali-tali ini lalu diberi tinta dan ditarik. Rentangan tali yang ditarik tadi lalu mental dan mencipratkan tinta ke lempiran lontar sehingga terbentuk garis-garis.
Pisau untuk menulisi lontar. Lalu lontar yang sudah siap ditulisi ditulisi menggunakan pisau tulis yang di Bali disebut pengropak atau pengutik. Di Jawa Barat dalam bahasa Sunda disebut dengan istilah péso pangot. Sang penulis sebenarnya mengukir aksara pada lempir-lempir lontar ini. Setelah selesai ditulis sebuah lempir, biasanya pada kedua sisi, maka lempir harus dihitamkan. Cara menghitamkan dilakukan dengan menggunakan kemiri yang dibakar sampai mengeluarkan minyak. Lalu kemiri-kemiri ini diusapkan pada lempir dan ukiran aksara-aksara tadi jadi terlihat tajam karena jelaga kemiri. Minyak kemiri sekaligus juga menghilangkan tinta-tinta garisan. Lalu setiap lempir dibersihkan dengan lap dan kadangkala diolesi dengan minyak sereh supaya bersih dan tidak dimakan serangga.
Lalu tumpukan lempir-lempir ini disatukan dengan sebuah tali melalui lubang tengah dan diapit dengan sepasang pengapit yang di Bali disebut sebagai takepan. Namun kadangkala lempir-lempir disimpan dalam sebuah peti kecil yang disebut dengan nama kropak di Bali (di Jawa kropak artinya adalah naskah lontar).

LONTARA SULAWESI

Di Sulawesi Selatan lontar dikenal juga dan disebut sebagai lontara. Bentuk lontara agak berbeda dengan lontar dari Jawa dan Bali. Sebab di Sulawesi Selatan lontar disambung-sambung sampai panjang dan digulung sehingga bentuknya mirip dengan sebuah kaset (video ataupun musik).
Konon lontara dari Sulawesi ini sudah sangat langka, di dunia lontara Sulawesi tinggal tiga buah naskah saja.

Tempat penyimpanan koleksi lontara
Beberapa perpustakaan dan instansi umum lainnya di seluruh dunia menyimpan koleksi lontar dan menyadiakannya bagi para peneliti untuk dibaca. Di bawah ini diberikan daftar.

Indonesia

* Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta
* Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya (d/h Fakultas Sastra) Universitas Indonesia di Depok
* Museum Sri Baduga, Bandung
* Museum Sonobudoyo Yogyakarta
* Museum Mpu Tantular, Surabaya
* Gedong Kirtya, Singaraja
* Pusat Dokumentasi Budaya Bali, Denpasar
* Museum Negeri NTB, Mataram

Amerika Serikat

* Library of Congress Belanda
* Perpustakaan Universitas Leiden
* Perpustakaan KITLV, Leiden

Britania Raya

* British Library, London

Jerman

* Staatsbibliothek zu Berlin (milik yayasan Stiftung Preußischer Kulturbesitz), Berlin
* Perpustakaan Universitas Heidelberg, Heidelberg Perancis
* Bibliothèque Nationale, Paris

Baca Selengkapnya ...

Ungkapan Toriolo

Di kalangan Bangsa Bugis, mungkin tidak asing di telinga kita ungkapan-ungkapan leluhur (To Riolota). Ungkapan Tradisonal sebagai aspek budaya yang diakui mengandung nilai-nilai yang perlu dilestarikan. Hal semacam ini sekarang sudah sangat langka. Hanya sesekali ada terdengar diucapkan oleh orang-orang tua disaat ada pertemuan tradisi (acara Budaya). Selain kandungan yang ada didalamnya juga segi sastranya sangat halus, sampai tidak mudah dibuat oleh orang.
Ungkapan ini biasanya disampaikan kepada anak untuk melakukan sesuatu kebiasaan baik yang baik maupun tidak baik, tetapi membuatkan semacam sebab akibat yang sangat ditakuti oleh si anak. Misalnya ibu mati, dia bisa pendek umur, ia terlambat besar. Begitu pula sebaliknya, ada yang sesungguhnya diperintahkan melakukannya, dengan akibat baik apabila dilakukannya.
Beberapa Ada-ada To Riolo yang merupakan nasihat orang tua kepada anaknya antara lain sebagai berikut:

1.MAUNI COPPO' BOLANA GURUTTA' RIUJA MADORAKAMONI'
Artinya : Walaupun bubungan atap rumah Guru yang dicela, maka kita pun berdosa.
FungsI : Agar anak senantiasa menghormati Gurunya.
Nilai : Pendidikan akhlak.


2.AJA' MUOPPANG NASABA MATEI MATI INDO'MU
Artinya : Jangan Engkau tidur tengkurap/ meniarap, nanti mati ibumu.
Fungsi : Supaya anak menghentikan kebiasaan yang merugikan dirinya yakni bisa berakibat sesak nafas
Nilai : Pendidikan kesehatan.

3. NAREKKO PURANI RIACCINAUNGI PASSIRING BOLANA TAUWE TEMPEDDINNI RINAWA-NAWA MAJA
Artinya : Kalau kita sudah berteduh dibawah atap rumahnya seseorang, sudah tidak boleh lagi
dibenci (diusahakan ia binasa).
Fungsi : Supaya anak tahu menghargai budi orang lain.
Nilai : Pendidikan akhlak

4. AJA MULEU RI TANAE, KONALLEKKAIKO MANU-MANU MATEITU INDO'MU
Artinya : Jangan kamu baring ditanah, karena kalau ada burung melewatimu ibumu akan mati.
Fungsi : Supaya anak jangan mengotori dirinya.
Nilai : Pendidikan kesehatan.

5. AJA MUALA AJU PURA RETTE' WALIE NAKOTENNA IKO RETTE'I, AJA' TO MUALA AJU RIPASANRE'E, KOTENNA IKO PASANREI
Artinya : Jangan kau ambil kayu yang sudah dipotong ujung dan pangkalnya. Dan jangan pula engkau ambil kayu yang tersandar, kalau bukan kau yang sandarkan.
Fungsi : Supaya anak tahu menghargai hak orang lain.
Nilai : Pendidikan kejujuran.

6. AJA MUINUNG TETTONG, MALAMPEI LASOMU
Artinya : Jangan minum berdiri, nanti panjang kemaluanmu.
Fungsi : Supaya gelas tidak jatuh/pecah.
Nilai : Memelihara keselamatan barang.

7. AJA MUNAMPUI TANAE, MATARUKO
Artinya : Jangan menumbuk tanah, karena kamu bisa jadi tuli.
Fungsi : Supaya anak tidak mengotori dirinya sendiri.
Nilai : Pendidikan kebersihan.

8. NGOWA NA KELLAE, SAPU RIPALE PAGGANGKANNA
Artinya : Loba dan tamak, berakibat kehampaan.
Fungsi : Supaya anak tahu mensyukuri yang ada (sedikit tapi halal).
Nilai : Pendidikan untuk menghormati hak orang lain (tidak serakah)

9. AJA MUANRE TEBBU RI LEUREMMU, MATEI INDO'MU
Artinya : Jangan makan tebu ditempat tidurmu, akan mati ibumu.
Fungsi : Supaya anak tidak kotor, dan dikerumuni semut.
Nilai : Pendidikan kebersihan.

10. RICAU AMACCANGNGE, RIABBIASANGENGNGE
Artinya : Kalah kepintaran dari kebiasaan atau pengalaman.
Fungsi : Supaya anak rajin membiasakan diri belajar.
Nilai : Pendidikan kepatuhan.

11. Aja Muakkelong Riyolo Dapureng, Tomatowa Matu Muruntu’
Artinya : Jangan menyanyi di muka dapur, jodohmu nanti orang tua.
Fungsi : Supaya anak tahu menempatkan sesuatu pada posisinya masing-masing.
Nilai : Pendidikan ketertiban.

12.GETTENG LEMPU ADATONGENG
Artinya : Tegas, jujur serta berkata benar.
Fungsi : Supaya anak teguh pada pendirian,,jujur, dan berbudi bahasa yang baik.
Nilai : Pendidikan mental.

13. Aja Mubuangi Sanru’e, Maponco Sunge tauwe.
Artinya : Jangan menjatuhkan sendok, kita pendek umur.
Fungsi : Supaya sendok tak jatuh kotor.
Nilai : Pendidikan kebersihan.

14. Komuturusiwi Nafessummu, padaitu mutonanginna lopi Masebbo’E.
Artinya : Kalau kamu menuruti nafsumu, sama saja engkau menumpang perahu bocor.
Fungsi : Kalau tidak tahu mengendalikan diri, pasti binasa.
Nilai : Pendidikan untuk mengendalikan diri (amarah).

15. Engkatu Ada Matarengngi Nagajangnge.
Artinya : Ada perkataan lebih tajam dari keris.
Fungsi : Supaya anak memelihara selalu bahasanya kepada orang lain.
Nilai : Pendidikan akhlak.

16. Naiyya Balibolae, Padai Selessurengnge.
Artinya : Adapun tetangga itu sama dengan saudara.
Fungsi : Supaya kita menghormati tetangga.
Nilai : Pendidikan akhlak bermasyarakat.

17. Aja Mutudang risumpangnge, Mulawai dalle’E.
Artinya : Jangan duduk dimuka pintu, kau menghambat rezeki.
Fungsi : Supaya anak tidak menghalangi orang yang mau lewat.
Nilai : Pendidikan Tatakrama.

18. Rekko Mupakalebbi’i Tauwe, Alemutu Mupakalebbi.
Artinya : Kalau kamu memuliakan orang, berarti dirimulah yang kau muliakan.
Fungsi : Agar anak senantiasa memuliakan dan menghargai orang lain.
Nilai : Pendidikan Tatakrama.

19. Aja’ Muasseringangngi Pale’mu, Sapu ripalekko.
Artinya : Jangan jadikan sapu telapak tanganmu, nanti kamu hampa tangan.
Fungsi : Supaya anak jangan mengotori tangannya, dan bisa kena benda tajam.
Nilai : Pendidikan kebersihan.

20. Aja Mutudangiki angkangulungnge, malettakko.
Artinya : Jangan menduduki bantal, nanti kau kena bisul.
Fungsi : Agar anak tidak merusak alat tempat tidur.
Nilai : Pendidikan untuk tetap memelihara peralatan.

21. Anreo Dekke inanre, Namalampe Welua’mu.
Artinya : Makanlah Nasi yang hangus pada dasar periuk supaya panjang rambutmu.
Fungsi : Membuat anak mau saja makan nasi yang tidak baik (hangus).
Nilai : Pendidikan pembiasaan anak tidak mubazir.

22. Resopa Natemmangingngi, Malomo nNletei Pammase Dewata
Artinya : Hanya kerja disertai ketekunan, mudah mendatangkan rezeki Tuhan.
Fungsi : Agar anak tidak malu bekerja keras untuk mendapat rezeki.
Nilai : Pendidikan kerajinan dan ketekunan.

23. Naiyya Olokolo’E Tuluna Riattenning, Naiyya Tauwe Adanna Riattenning.
Artinya : Kalau binatang, talinyalah yang dipegang, kalau manusia perkataannya yang dipegang.
Fungsi : Agar anak konsisten dapat menepati perkataannya.
Nilai : Pendidikan kejujuran (akhlak).

24. Cicemmitu tauwe Tai ri lalengnge, Idi’na sini riaseng.
Artinya : Sekali kita berak di jalan, maka kitalah yang selalu dituduh.
Fungsi : Jangan sekali-kali kita berbuat yang tidak baik, karena selalu kitalah yang dituduh kalau ada perlakuan yang sama.
Nilai : Pendidikan anak jangan melakukan yang buruk.

25. Panni’na manue muanre, Malessiko lari.
Artinya : Sayapnyalah ayam yang kau makan, jadinya kau kuat lari.
Fungsi : Supaya anak tidak manja dalam memilih makan.
Nilai : Pendidikan agar anak tidak membuat masalah terhadap makanan keluarga.

26. AJA MURENNUANGNGI ANU DEE RI LIMAMMU
Artinya : Janganlah engkau terlalu mengharapkan apa yang belum ada pada tanganmu.
Fungsi : Supaya tidak terlalu berani mengharapkan barang (uang) yang belum tentu didapat (hari) itu.
Nilai : Peringatan agar tidak meremehkan janji, sampai salah jadinya.

Baca Selengkapnya ...